-->

Followers

HEADLINE NEWS

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Fadly Ibrahim: Habibie dan Politik Islam

By On September 12, 2019

Fadly Ibrahim

MAKASSAR, MJSULBAR.COM -  Selepas menyampaikan aspirasi pada SU MPR/DPR RI tahun 2000, saya bersama kawan sekampus berdiskusi dengan Prof Deliar Noer, Rusli Biki, Habib Ali Kwitang, DR Mochtar Naim, dan beberapa tokoh lainnya (saya lupa namanya). 

Politik Islam Orde Baru menjadi topik yang dibincangkan saat itu. Diskusi berbobot dan konstruktif bagi kami yang masih berstatus mahasiswa.

Prof Deliar menilai bahwa Orde Baru adalah fase kritis pertarungan ide dan gagasan pemikiran islam. Datuk Mochtar yang berpatron pada pemikiran politik tokoh Masyumi Muhammad Natsir menganggap gerakan islam berbasis partai politik pada masa itu sulit menjadi agenda umat karena kekuasaan selalu hadir melemahkan relasi Islam dan negara. 

Begitupula pesantren dan pengajian yang merupakan instrumen kultural untuk membina umat juga dipenetrasi oleh kekuasaan, sebagaimana yang dirasakan oleh Habib Kwitang. Bahkan lebih dari itu, menurut Rusli Biki (adik Amir Biki korban Tanjung Priok) Orde Baru secara terbuka menunjukkan perlakukan diskriminatif dan represifnya terhadap kelompok-kelompok Islam.

Disharmoni antara Islam dan Orde Baru adalah realitas sejarah Indonesia modern yang sulit disangkal, karena terdapat banyak fakta yang menguatkannya. Diantaranya HMI dan ormas lainnnya dipaksa tunduk pada asas tunggal Pancasila, PPP sebagai fusi ormas dan partai Islam dijinakkan, dan pembatasan terhadap akses simpul ekonomi. 

Rentang 1970-1988 adalah masa lemahnya posisi tawar umat Islam, aktivis dakwah atau islam politik dibranding dengan “ekstrem kanan”, “Negara Islam”, “SARA” dan “Anti Pancasila”, padahal belum tentu Gerakan dakwah tersebut berafiliasi dengan DI/TII atau kelompok Gerakan Transnasional. 

Rekayasa sosial politik dengan mudah dilakukan oleh intelejen untuk menghabisi orang-orang yang melawan arus kekuasaan. Ali Murtopo dengan OPSUS-nya merupakan invisible government yang setiap saat bisa melakukan eksekusi tanpa harus berdiskusi panjang dengan presiden. Komando Jihad, Tanjung Priok, Talang Sari Lampung adalah sederet karya intelejen Ali Murtopo.

Dalam situasi itu, Habibie yang lahir dari keluarga dengan trasidisi Islam yang kuat merasakan marginalisasi tersebut. Sehingga perlahan berupaya mengubah arah kebijakan politik Orde Baru yang sejak awal tidak berpihak kepada umat Islam. 

Karenanya saat Imaduddin Abdurrahim, Dawam Rahardjo dan Syafi'i Anwar menyampaikan gagasan pembentukan wadah yang menghimpun cendikiawan muslim, ide tersebut bertemu frekuensi dengan kerisauan Habibie. 

Poros intelektual kampus menilai bahwa sekalipun Habibie cukup lama berinteraksi dengan tradisi barat yang sekuler, namun ia tetap teguh pada akar keyakinannya, bereputasi nasional internasional serta dapat diterima oleh Soeharto.

ICMI kemudian lahir menjadi gerakan pemikiran dan intelektual Islam yang mewarnai pertarungan gagasan dan kekuasaan di Indonesia, rumah bagi kaum intelegensia muslim yang memiliki kemajemukan wacana pemikiran. 

Lewat kerja politik-intelektual Habibie dengan sahabat cendikiawannya di ICMI, dirinya mampu mereduksi dan mengurai kelompok anti Islam diperiode akhir pemerintahan Soeharto. Orde Baru kemudian lebih akomodatif dengan kepentingan Islam. 

Indikasinya adalah terjadinya dominasi kaum terdidik (intellectual booming) yang berasal dari kelas menengah kaum santri pada struktur pemerintahan Orde Baru. Ormas Islam semakin optimal memainkan peran civil society-nya karena mendapat dukungan dari pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan Islam tumbuh menjamur, dan pesantren dimodernisasi. 

Namun dalam situasi kebangkitan Islam Indonesia yang bergerak dinamis tersebut, instabilitas politik nasional mematahkan visi Islamic Futurism Habibie. Kata Ahmad Syafii Ma’arif “Habibie adalah seorang yang baik, tetapi datang pada waktu yang salah”.

Selamat jalan pak Habibie, semoga pahala dari karya dan pengabadianmu terus mengalir seperti mata air yang menghidupi banyak orang, sebagaimana pesan ayahandamu. (*)

Belajar Dari Pertandingan Liverpool vs Barcelona

By On May 07, 2019

Saiful Jihad

MJSULBAR.COM - Belum terlupakan, bagaimana media memberitakan kehebatan Barcelona membantai Liverpol 3:0, dan bagaimana Messi menjebol gawang Liverpool 2 gol.

Berbagai prediksi menempatkan Barcelona hanya membutuhkan kalah 0:2 untuk keluar sebagai pemenang dan maju ke babak final.

Tetapi apa yang disuguhkan oleh Liverpool di Stadion Anfield dinihari tadi, saat menjamu Barcelona benar-benar sebuah pelajaran dan tontonan yang menyesakkan bagi pendukung Barcelona.

Liverpool tanpa Salah, justru membuat kejutan besar dengan melesakkan 4 gol tanpa balas ke gawang Barcelona.

Sebuah kemenangan fantastis. bahkan banyak menyebut mission impossible.

Apa pelajaran yang bisa diambil...?

1. Istilah bola itu bundar, menjadi sebuah kebenaran. Tidak ada yang bisa memutuskan menang-kalah, selain fakta di lapangan, orang bisa memprediksi, meramal, melakukan jejak pendapat, quick count dan semacamnya..., tetapi yang mesti diterima dan sah adalah apa yang terjadi (real count) bahkan perhitungan di papan skor (manual).

2. Barcelona, meski menang di leg pertama dan dalam berbagai prediksi para pengamat, namun saat papan skor diakhir pertandingan tadi malam terpampang angka 4:0 untuk.kemenangan Liverpool, maka dengan tegak kepala, mereka semua mengakui kemenangan rivalnya dengan legowo.

Kekalahan mereka memang pasti menyakitkan, tetapi sebagai tim provesional, mereka menerima kelalahan dinihari tadi.

3. Demikian halnya dengan tim sepakbola Inggris, Liverpool. Mereka telah kalah di leg awal, tetapi mereka mampu mematahkan prediksi berbagai kalangan dengan menyajikan permainan yang lebih rapi, lebih terkonsolidasi, lebih bersemangat dalam permainan di lapangan.

Mereka tidak melakukan provokasi, tanpa ancaman kekerasan, tanpa perlu menebarkan issu bahwa kekalahan mereka di awal adalah karena adanya kecurangan dan tindakan lain yang tidak sesuai dengan norma pertandingan.

Selamat untuk Liverpool atas kemenangannya..., dan kepada Barcelona, kegagalan melaju ke babak final Liga Champion Eropa tahun 2019.

Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilu 2019 Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, 8 Mei 2019.

Membangun Karakter Oleh H Iskandar Siregar

By On March 25, 2019


H. Iskandar Siregar
Ketua DPP LDII
MJSULBAR.COM - Seorang pemimpin yang baik tahu bahwa  ia bukan sekadar penggubah sejarah. Ia membangun sesuatu, bias sebuah konsep, sistem, struktur,atau yang secara fisik dapat dirasa,yang menjadi ingatan. Meskipun ingatan tak sepenuhnya utuh tersimpa. Kadang ingatan itu melayang tertiup ditelan hiruk-pikuk gelombang kehidupan. Tapi ingatan itu pada momen tertentu muncul, mengundang kita untuk sejenak merenung perubahan yang terjadi dari masa ke masa. 

Kini ketika dunia luar terus melakukan konsolidasi baik dari sayap kekuasaan, politik, ekonomi, maupun sosial budaya, mengundang nilai-nilai perubahan sebagai model untuk ditiru. Dampaknya, paling tidak seperti apa yang dikemukakan Ketua Mahkamah Konstitusi Arif Hidayat, pada pertemuan dengan para pemimpin perusahan dan tokoh masyarakat di Jakarta pada bulan lalu, ada gejala disorientasi. Secara definitive, disorientasi semacam "kehilangan arah" atau kehilangan daya untuk mengenal lingkungan. 


Menurut Arief Hidayat, sebagian yang menduduki jabatan atau pun sedang menggapai kursi tanggung jawab sebagai pemegang tampuk kekusasaan orientasinya bukan pada sumpah jabatannya yang harus menjaga amanah dan jujur. Tapi yang yang terjadi adalah menggunakan jabatan itu untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongannya, yang sering melanggar aturan. 

Arief Hidayat menyampaikan persoalan itu bukan tanpa alasan. Banyak perkara yang masuk ke Mahkamah Konstitusi, setelah dalam proses di persidangan, terungkap, bagaimana perjalanan untuk meraih kursi sebagai pemimpin di daerah,ditempuh dengan beragam cara yang syarat dengan kadang tidak masuk dalam akal sehat bahkan moral dan agama. Padahal dengan perkembangan teknologi sekarang, pemimpin mudah terpantau dan menjadi bernilai dan dinilai dan rekat yang melahirkan pengakuan, dapatkah ia me-revitalisasi peradaban.

Karena itu, jalan utama bagi pemimpin salah satunya adalah karakter. Karena pemimpin bakal diterpa aneka perubahan yang tak bias dielakkan dan sering tidak terduga. Diantara itu, seiring dengan dinamika lingkungan sekitarnya, kesalahpahaman sering terjadi antara pemimpan dan yang dipimpin. Disitu fungsi didaktis pemimpin diuji untuk memberi pedoman ke generasi muda. 


Lagi-lagi ada persoalan karakter di situ Kini Gencar didengungkan didesakkan dan disebut sebagai "Revolusi Mental" membawa imaji melodramatik, mudah-mudahan kelak berhasil denagan heroik, sebagai bagian dari pembangunan karakter bangsa. Karenna diakui dan disadari pembangungan tidak hanya fisik, tapi pembangunan karakter menjadi landasan keberhasilan pembangunan itu sendiri. Itu sebabnya dorongan mengharapkan pemimpin yang berkarekter menguat. Apa bila kini tuntutan warga "bejibun" kepada pemimpin.

Saya teringat esai Frederic Bastiat, orang Perancis di abad ke-19. Ia dengan kocak menggambarkan  negara yang gelagapan memenuhi tuntutan warganya dari delapan penjuru angina. ada yang minta diatur pekerjaanya. Bikin eksperimen untuk kuliner.bangu jalan dan kereta api. Tanam pohon di pegunungan. Perbaiki keturunan ternaknya, kalau perlu pinjaman uang.

Disini pemimpin yang berkarakter yang dapat diandalkan serta memiliki daya tahan menghadapi berbagai rintangan dan tantangan, menemukan ladang pengabdiannya. Bukan model Machiavelli, yang menulis II Princpe di mana pemimpinya memang meguasa yang tegas dan efektif,dalam menipu,menjebak,dan membinasakan mereka yang menghambat jalannya. Dalam rumusnya Machiavelli, ia bisa memakai segala cara untuk melanggenkan kekuasaannya. Ia tak peduli. Ia biasanya tidak mendengarkan apa yang dikatakan orang tentang dirinya.

Namun hidup tidak hanya kekuasan. Pengalaman menunjukkan hidup juga punya tujuan yang hakiki. Kelak semua sepak terjang didunia ini akan diminta pertanggungjawabnya di sisi yang maha kuasa.

Kisah Khalid Bin Walid, panglima perang Islam yang termasyhur dengan kecerdasannya, pemberani, kuat dan gagah, menjadi pelajaran. Panglima bukanlah sosok orang gentar dan lemah jika diterpa cobaan dan ujian. Termasuk ketika Umar Bin Khattab, sebagai Khalifah, "mencopot" Khalib dan Walib, sebagai panglima, Khalid menerimanya dengan rela dan "legawa". Karena oriantasi Khalid bukan ingin pada "kekuasaan", tapi untuk kebaikan dan mashalat bersama. Keimananlah dan lebih mementingkan orang banyak. 

Sebagai Lembaga Dakwah, DII memiliki potensi yang bias diandalkan untuk berkontribusi pada negara dibidang pembangunan moral dan karakter. Sesuai dengan sabda Nabi: "Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR Thabrani). Disamping itu, Umar Bin Khattab, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW berkata: "Mencarilah kefahaman agama yang kuat, yang sudah tertanam sejak dini, seorang memiliki potensi dan modal yang kuat untuk membangun dirinya, keluarganya, bahkan membangun bangsa dan negaranya, jika kelak diberi amanah mengemban tanggung jawab sebagai pemimpin. 

Sikap amanah adalah sikap pribadi seseorang yang bias dipercaya dan menjaga kepercayaan itu, tidak berkhianat (tidak merusak kepercayaann) dan menyampaikan hak kepada yang berhak menerima. Thobiat amanah mendorong lahirnya perilaku bertanggung jawab, yang dalam keseharian mewujud dalam bentuk pelaksanaan tugas pekerjaan sesuai dengan standard dan kriteria yang dituntut. 

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Perbaikilah dirimu (sampai mempunyai budi perti yang luhur) maka manusia akan berbuat baik padamu". 

Itu sebabnya, arahan Ketua Umum LDII agar LDII menjalankan 6 Thobiat luhur (jujur, amanah, kerja keras/mushid-mujhid, rukun, kompak, kerja sama yang baik) sangat relevan dalam menghadapi situasi dan kondis saat ini dan ke depan. Ambil contoh kerja sama yang baik. Sikap ini berwujud saling peduli, saling mendukung dan memperkuat, tidak jatuh menjatuhkan, tidak rugi-merugikan, dan tidak fitnah-memfitnah. Pentingnya kerja sama yang baik telah lama disadari oleh pakar organisasi dan manajemen, dimana dikatakan bahwa inti manajemen adalah bagaimana menegelola kerja sama untuk mencapai tujuan organisasi atau tujuan yang lebih besar lagi. 

Karena itu, salah satu kerja lembaga dakwah adalah "ikut ambil bagian"  bukan sebagai obyek tapi bersama-sama komponen bangsa lainnya ikut proaktif dalam sebuah proses yang disebut membangun karakter bangsa. Wallahu a’lam bishawab

 Sumb: Nuansa Persada - Edisi April 2017